Sosok Apriyani Rahayu, Anak Desa Yang Mengharumkan Nama Bangsa

Gregoria merupakan atlet termuda Indonesia dari cabang olahraga bulu tangkis, yang melenggang ke occasion akbar Olimpiade Tokyo. Dia lahir di Wonogiri, eleven Agustus 1999 dan baru berusia 21 tahun. Di tahun 2017 lalu, Gregoria berhasil menyaabet juara dunia juniro dengan mengalahkan pemain China, Han Yue dengan tiga gim panjang. Bersama Meliana, Greysia berhasil lolos ke Olimpiade untuk pertama kalinya di Olimpiade London 2012 meskipun belum berhasil meraih medali. Di situ ia mendapat arahan dari pelatih Toto Sunarto agar ia beralih saja ke nomor ganda.

Biodata Apriyani Rahayu

Kesempatan pertama Apriyani Rahayu adalah tampil di ajang Sirnas Djarum 2012 di Banjarmasin. Saat itu Apriyani Rahayu bermain di nomor tunggal putri dan langsung kandas di babak pertama. Akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke Konawe dan tinggal di keluarga sang pelatih dengan tetap melanjutkan sekolah. Selama tinggal di Konawe, Apriyani terus berlatih bulutangkis dengan keras.

Liu juga terang-terangan mengaku mengidolakan Hendra Setiawan sejak dulu. Keduanya beberapa kali bertemu di luar lapangan, saat di Indonesia maupun di China. Bahkan, Liu cukup akrab dengan istri dan tiga putra-putri Hendra.

Sebelumnya, Arief Muhammad sudah menjanjikan akan memberikan dua cabang usahanya itu untuk Greysia Polii dan Apriyani Rahayu saat mereka berhasil merebut tiket ultimate pada Sabtu, 31 Juli 2021. Selain Lin Dan, Axelsen juga mengagumi pebulutangkis legendaris Denmark, Peter Gade. Gade juga menorekan prestasi apik di kancah bulutangkis dunia. Pemain tunggal putra biasanya juga mengidolai atlet dari sektor itu.

Selanjutnya mereka mendapatkan medali perak pada gelaran Indonesia Masters 2018. Saat itu ia berharap, apresiasi itu sebagai dukungan agar Greysia / Apriyani bersemangat di pertandingan last. Prestasi perempuan berambut cepak ini dimulai dengan peraihan perak di Kejuaraan Dunia Junior 2014.

Berada di posisi 15 dunia, Gregoria mantap dan yakin memberikan hasil terbaik di Olimpiade Tokyo. Wang sempat kesulitan ketika diminta menebak pemain idolang Huang. Dia menyebutkan dua jawaban, semuanya pemain dari China, yaitu Gao Ling dan Zhao Yunlei.

Namun, Apri mengakui dari beberapa pemain senior yang pernah berpasangan dengannya, ia merasa mendapatkan chemistry dengan Greysia. “Cocok maksudnya lebih pada pola permainan saya dengan kak Greysia. Kalau dengan senior-senior lainnya saya sih Kakek Merah merasa baik-baik saja,” tukas Apri. Jelas itu akan menjadi persoalan karena orang tuanya tak akan mampu membiayai. Beruntung, setelah menjalani masa percobaan tiga bulan, Icuk pun memberikannya fasilitas berlatih secara cuma-cuma di PB.Pelita.

Peringatan itulah yang memacunya berlatih dengan tekun agar tidak dipulangkan. Beruntung, setelah menjalani masa percobaan tiga bulan, Icuk pun memberikannya fasilitas berlatih secara cuma-cuma. Kemenangan demi kemenangan yang dicapai Apriyani berkat kerja kerasnya selama ini.

Saat sampai di Ibukota, ia baru menyadari bahwa ilmu bulutangkisnya ternyata belum apa-apa dibanding anak-anak di Jawa. Sebelumnya, usaha keras keduanya selalu sampai partai semifinal sebelum akhirnya gagal menjadi juara. Menjadi juara di Istora membuat Apriyani teringat dengan masa-masa ketika bersama Greysia dalam keadaan terpuruk tahun lalu. Kiprahnya terus melesat dan menjadikan dia sebagai tunggal putri terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.

Gamil